Selasa, 27 Juli 2021 08:06

Strategi Pemkab Bolmong Jaga Ekonomi di Tengah Pandemi covid-19

BOLMONG, RESTORASITV.CO.ID - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, terus menjaga pertumbuhan perekonomian di wilayahnya, walau di tengah Pandemi Covid-19.

Di tangan dingin Bupati Kabupaten Bolaang Mongondow, Yasti Soepredjo Mokoagow dan Wakil Bupati Yanny Ronny Tuuk,      potensi Kabupaten Bolaang Mongondow yang memiliki luas wilayah 26 persen luas di Sulawesi Utara, serta daerah yang sangat kaya akan sumber daya alam sekitarnya 70 ribu lahan perkebunan jagung, 24 ribu lahan pertanian, 50 ribu lahan kelapa dalam, 5000-an untuk tanaman holtikultura. Kemudian lahan perkebunan kopi sekitar 7000 hektar, kakao serta potensi bawah laut yang melimpah dengan bibir pantai kurang lebih 121.000 km dan sebagainya, membuat Bupati Yasti soepredjo Mokoagow optimis membawa Bolaang Mongondow bersaing dengan daerah lain.

Dalam masa pemerintahannya Bupati dan Wakil Bupati Bolaang Mongondow mengajak Tahlia Gallang kembali ke Bolaang Mongondow dengan menjabat sebagai Sekertaris Daerah (Sekda) setelah sebelumnya menjabat Sekda di dua daerah berbeda yakni Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan dan kota Kotamobagu.

Bupati Bolaang Mongondow yang juga di juluki Bunda Infrastruktur ini terus memperjuangkan pembangunan  hingga pembukaan Industri, dengan berhasil mendatangkan infestasi sebesar 160 Triliun untuk Kawasan Industri Mongondow, sasarannya adalah terbukanya lapangan pekerjaan bagi puluhan ribu putra putri Bolaang Mongondow agar ekonomi masyarakat meningkat.

Di tengah Pandemi Covid-19, orang nomor satu di Bolaang Mongondow ini juga berhasil mencatat sejarah dengan berhasil meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian ( WTP ) dari Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK ) setelah sekian lama Bolaang Mongondow terjebak Opini Disclaimer.

Kerja keras Bupati Yasti, di tengah wabah Pandemi Covid-19 nampaknya membuahkan hasil. Terbukti, pertumbuhan ekonomi di Bolaang Mongondow 2017 mencapai 6,19 persen. Angka ini terus naik hingga tahun 2020 menjadi 7,2 persen.Yasti Soepredjo Mokoagow menargetkan di tahun 2022 naik kembali menjadi 7,51 persen.

Bupati Yasti soepredjo Mokoagow mengatakan bahwa pemerintah dan masyarakat Bolaang Mongondow tidak bengitu sulit mengatasi perekonomian, karena pemerintah memberikan berbagai stimulus.Terutama di bidang pertanian seperti bantuan bibit dan pupuk kepada petani.

Selain itu, telah melakukan kampanye dan sosialisasi agar masyarakat tetap melaksanakan aktifitas berkebun.Misalnya yang berpotensi nelayan tetap nelayan.

Yasti juga mengeluarkan kebijakan melalui Peraturan Bupati ( Perbup ) untuk optimalisasi lahan pertanian, Dimana Kepala-Kepala Desa di Bolaang Mongondow di minta untuk mendata semua lahan pertanian yang ada di masing-masing desanya. Bahkan Kepala Desa ini di minta mendata lahan yang sudah di garap dan yang belum digarap, untuk lahan yang belum digarap, pemerintah akan meminta mereka bercocok tanam, atau bisa dipinjamkan ke masyarakat lain untuk tanaman bulanan.

Inilah yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di daerah Bolaang Mongondow di masa Pandemi naik dari 7 persen menjadi 7,3 persen. "Ini yang tertinggi di Sulawesi Utara dan diatas rata-rata Nasional yang pada saat itu banyak daerah minus pertumbuhan ekonominya," ujarnya .

Pemda Bolaang Mongondow juga memberikan bantuan pada saat Pandemi kurang lebih Rp. 30 Miliar untuk bibit dan pupuk kepada petani. Itu hanya mampu untuk 14.500 hektar lahan. Jika Pemkab Bolaang Mongondow memberikan subsidi, karena bunga pinjaman kredit UMKM itu 6 persen, Rp 300 Miliar  hanya Rp 18 Miliar, Rp 30 Miliar menghasilkan pertumbuhan ekonomi 7,3 persen, di masa Pandemi. "kalau Rp 300 Miliar pinjaman dari perbankan dan subsidi bunga diberikan pemerintah daerah bisa dibayangkan berapa besar putaran uang disitu." Jelasnya

Dengan contoh 50.000 hektar lahan ditanami jagung.Satu hektar lahan itu bisa menghasilkan 5 ton jagung dengan harga 4000 per kg.Kalau 4000 per 1 kg,maka di dalam 1 hektar itu ada 5 ton. Berarti masyarakat mendapatkan Rp 20 juta per hektar kalau dikali dengan 50.000 hektar ada Rp 1 Triliun untuk 3 bulan masa tanam.Putaran ekonominya luar biasa.Itu baru poin jagung, belum lagi padi,"ujarnya.

Selain itu, Pemkab Bolaang Mongondow telah bekerja sama dengan Universitas Sam Ratulangi untuk mengembangkan padi jenis Sulutan.Dan saat ini petani hanya mampu memproduksi padi 3 sampai 4 ton gabah.Padi jenis Sulutan ini mampu memproduksi 6 sampai 7 ton gabah."Artinya terjadi intensifikasi pertanian yang luar biasa untuk padi,"ujarnya.

Dalam memasuki tahun ke lima masa kepemimpinan Bupati Yasti soepredjo Mokoagow, hampir semua janji politik dalam visi dan misi tercapai.Kendati belum semua dicapainya dalam menuju tahun ke lima ini, tetapi banyak juga kemajuan dan keberhasilan yang dicapai terutama dalam bidang kesehatan, pendidikan dan pertanian serta sektor lainnya.

 

(Jemfri)

Baca 129 kali
Nilai butir ini
(0 pemilihan)